Literasi Matematis dalam PISA

Program for International Student Assessment, disingkat PISA, adalah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga-tahunan yang disponsori oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang beranggota 34 negara untuk mengetahui literasi matematis siswa berumur sekitar 15 tahun. Literasi matematis adalah kecakapan individu untuk mengidentifikasi, mengerti peranan matematika di dunia ini, membuat penilaian yang akurat, menggunakan dan melibatkan matematika dengan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan individu sebagai warga negara yang reflektif, kontruktif dan berbakti (bdk. OECD, PISA, 2003).

Salah satu hal yang menjadi focus evaluasi dalam PISA adalah literasi matematis (mathematical literacy). Tujuan dari tes literasi matematis dari PISA adalah mengukur bagaimana siswa mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan sekumpulan masalah dalam berbagai konteks nyata. Untuk menyelesaikan sekumpulan masalah tersebut, para siswa harus mengerjakan sejumlah kompetensi matemataikanya.

Menurut Jan De Lange, literasi matematis (mathematical literacy) adalah suatu kecakapan yang dimiliki oleh seorang individu untuk mengidentifikasi dan memahami peran-peran yang dimainkan oleh matematika di dunia  nyata, untuk membuat pendapat-pendapat yang cukup beralasan, dan untuk menggunakan cara-cara yang ada di dalam matematika untuk memenuhi kebutuhan dirinya dalam kehidupan saat ini dan yang akan dating, seperti sesuatu kemampuan yang sifatnya membangun, menghubungkan, dan merefleksikan warga masyarakat (OECD, 1999). Definisi literasi matematis di atas dikembangkan oleh kelompok ahli untuk matematika dalam PISA.

Tambahan pula, menurut Jan De Lange kompetensi-kompetensi yang akan membentuk literasi matematis seperti  dideskripsikan dalam definisi di atas adalah sebagai berikut:

1.    Kompetensi berpikir dan beralasan secara matematis.

  1. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang karakteristik-karakteristik dari matematika, seperti apakah hal tersebut ada? Jika demikian, berapa banyak? Bagaimana kita membuktikannya.
  2. Mengetahui macam-macam jawaban dari pertanyaan-pertanyaan matematika.
  3. Membedakan antara jenis-jenis pernyataan yang berbeda, yaitu definisi, teorema, konjektur, hipotesis, contoh-contoh, dan pernyataan bersyarat.
  4. Memahami dan memegang keluasan dan keterbatasan konsep-konsep matematika.

2.  Kompetensi beragumentasi secara logis.

  1. Mengetahui apa yang dibuktikan secara matematis dan bagaimana pembuktian tersebut berada dari pembuktian-pembuktian secara matematis yang lainnya.
  2. Mengikuti dan menilai rangkaian argument-argumen secara matematis dari tipe-tipe yang berbeda.
  3. Memiliki suatu perasaan yang heuristik, yaitu apa yang dapat terjadi, apa yang tidak dapat terjadi, dan mengapa.
  4. Membuat argument-argumen secara matematis.

3. Kompetensi berkomunikasi secara matematis.

  1. Mengekspresikan ide-ide dalam komponen-komponen matematika dengan berbagai cara, dalam bentuk lisan sama baiknya dengan dalam bentuk tertulis.
  2. Memahami pernyataan-pernyataan lisan dan tertulis yang dibuat oleh orang lain.
  3. Mengetahui tentang dan dapat menggunakan berbagai bantuan dan alat-alat (termasuk di dalamnya alat-alat teknologi informasi) yang dapat membantu terjadinya kegiatan matematik.
  4. Mengetahui tentang keterbatasan berbagai bantuan dan alat.

4. Kompetensi dalam memodelkan

  1. Menstrukturkan situasi yang akan dimodelkan.
  2. Matematisasi, yaitu menerjemahkan dari realitas ke matematika.
  3. Dematematisasi, yaitu mengintepretasikan model-model matematika dari realitas.
  4. Memodelkan (bekerja dalam domain matematika.
  5. Memvalidasi model.
  6. Merefleksikan, menganalisis, dan memberikan kritik terhadap model-model, dan hasil-hasil model.
  7. Mengkomunikasikan model dan hasil-hasilnya
  8. Memonitor dan mengontrol proses pemodelan.

5. Kompetensi mengajukan dan menyelesaikan masalah.

  1. Mengajukan, memformulasikan, dan membuat masalah-masalah matematika yang berbeda-beda jenis secara tepat, misal: masalah matematika murni, aplikasi, terbuka, dan tertutup.
  2. Menyelesaikan berbagai macam masalah matematika dengan cara yang berbeda-beda.

6. Kompetensi merepresentasi ide

  1. Memahami, menginterpretasikan, dan membedakan bentuk-bentuk representasi yang berbeda dari objek-objek dan situasi-situasi matematika, dan memahami hubungan timbal balik antar berbagai bentuk representasi.
  2. Memilih dan mengubah bentuk-bentuk representasi yang berbeda menurut situasi dan tujuan.

7. Kompetensi menggunakan simbol dan bahasa formal.

  1. Memahami dan menginterpretasikan bahasa simbolik dan forma dan memahami hubungannya dengan bahasa yang biasa dipakai.
  2. Menterjemahkan dari bahasa yang sehari-hari dipergunakan ke bahasa simbolik atau formal.
  3. Memahami pernyataan-pernyataan dan ekspresi-ekspresi yang memuat simbol-simbol dan rumus-rumus.
  4. Menggunakan variabel, menyelesaikan persamaan, dan melakukan perhitungan.

Sumber: Marpaung Yansen. 2011. PMRI dan PISA: Suatu Usaha peningkatan Mutu Pendidikan Matematika di Indonesia. Makalah yang disajikan pada Semiloka PISA di Universitas Negeri Makassar

Posted on November 14, 2012, in Introduction to RME, PISA, PMRI. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: